Blog

8 PANTANG UCAPKAN INI PADA ANAK

Bayangkan situasi ini; Anda sedang mengerjakan sebuah artikel untuk sebuah media, karena Anda adalah penulis lepas. Tiba-tiba si kecil muncul minta duduk di pangkuan Anda, dan tak henti bertanya “Semut makannya apa Bunda?” “Tupai yang di pohon kemarin itu suka makan apa?”

Waktunya menyiapkan makan siang si kecil, tiba-tiba ia menumpahkan air di dapur. Dia juga minta persetujuan Anda untuk menyiram tanaman di dalam pot di ambang jendela dapur. Lag-lagi, ia minta gendong, ingin melihat isi panci di atas kompor. Atau, “Bunda, boleh aku warnai gambar tikus pakai warna biru?”

Rasanya ingin berteriak; “Jangan ganggu Bunda!” “Ayo keluar dari kamar kerja Bunda!” “Main sendiri sana, jangan main di dapur!” Kita sering mengucapkan kalimat yang salah, yang membuat anak sedih, marah, dan bingung.

Kalimat-kalimat berikut ini ada gantinya yang lebih baik, yang tidak meninggalkan luka di hati anak:

“Jangan di sini. Sana!”

Tak ada orang tua yang tak ingin istirahat barang sejenak. Rasanya senang dibiarkan sendirian, menikmati saat santai tanpa diganggu anak, untuk sekadar memulihkan tenaga. Ketika anak mendekati bundanya untuk – lagi-lagi bertanya ini itu dan Anda berkata, “Jangan ganggu Bunda. Bunda lagi sibuk.” Yang tertanam dalam pikiran anak Anda adalah “Tidak ada pentingnya bicara dengan bunda, karena bunda selalu menyuruhku menjauh.”

Dari bayi, buah hati Anda selalu melihat Anda. Ia selalu menempel pada Anda. Jarak terjauh Anda darinya adalah sejauh jarak pandang Anda darinya. Tak heran bila di usia selanjutnya ia mencari-cari Anda sebagai sumber jawaban atas berbagai pertanyaan.
Ada cara lain untuk mengatakan dengan lebih baik; “Sayang, bunda harus selesaikan pekerjaan bunda dulu. Kamu mewarnai gambar sendiri ya…”

“Ih, kamu ini….”

Memberi label pada anak, alangkah mudahnya ya Bunda. “Kamu ini bawel…” “Kamu itu nggak mandiri” “Kamu malas…” Akibatnya, dalam sekejap anak memahami bahwa dirinya adalah pemalas, tidak mandiri dan cerewet. Ganti kalimat itu dengan; “Kamu kerjakan sendiri pasti bisa. Hasilnya akan bagus.” Jauhkan anak dari perilaku spesifik yang negatif.

“Nggak usah nagis…”

Ada kalimat yang lebih bagus, ganti “Sedih, sayang?” “Ayo, jangan jadi bayi” “Sudah besar, nggak perlu takut lagi…”
Mengatakan “jangan…” tidak akan membuat anak merasa lebih baik. Memberi nama untuk perasaan anak membuat anak merasa dihargai. Anda akan melihat hasilnya bagaimana bila Anda punya empati.

“Kenapa sih, kamu nggak seperti kakak?”

Membawa-bawa anak lain menjadi contoh memang menyenangkan. Maksud Anda mungkin memberi anak motivasi agar anak Anda melakukan hal-hal pintar seperti anak lain. “Sandi aja sudah bisa ngancing bajunya sendiri. Kamu juga dong.” “Ari sudah nggak ngompol. Nggak pakai diaper lagi.”

Membandingkan anak lazim dilakukan oleh para orang tua sebagai panduan milestone anak Anda sendiri. Jangan pernah bandingkan anak dengan anak lain, karena irama perkembangan tiap anak berbeda.

Jangan pernah bandingkan anak Anda dengan anak lain, karena percuma, tidak akan membuat anak termotivasi. Setiap pencapaian ditentukan oleh kematangan. Kematangan tiap anak dicapai dalam usia yang tidak selalu sama. Lebih baik mengatakan, “Bunda lebih senang kalau kamu coba pipis di kloset. Kan sudah besar.” Atau “Wah, hebat! Ternyata kamu sudah bisa pipis nggak ngompol…”

“Stop! Bunda cubit..”

Rasa frustrasi kerap membuat Anda dengan gampangnya mengancam. Cubit, ceples bokong, atau jewer. Memberi hukuman yang bersumber pada rasa frustrasi tidak memberi pemahaman apa pun pada anak, karena hukumannya bersifat fisik. Bukan sesuatu yang kreatif. Lebih baik keluarkan anak dari situasi tertentu yang membuat Anda jengkel karena ia tidak mau disiplin.

Time out, ata menjelaskan kembali apa yang Anda ingin dia lakukan, akan lebih efektif. Bila Anda merasa sudah berada pada puncak rasa frustrasi, Andalah yang harus pergi dari situasi tersebut sampai Anda betul-betul tenang.

“Nanti bunda bilangin ayah ya…”

Bersembunyi di balik otoritas lain menunjukkan Anda tidak berdaya dan tidak punya cukup kemampuan untuk mengatasi situasi. “Buat apa denger kata bunda, kalau bunda aja mau lapor ayah?” Ini yang ada dalam pikiran anak.

Dengan menampilkan sosok ayah yang Anda anggap akan lebih didengarkan oleh anak, meletakkan ayah pada posisi ‘menyelesaikan hal-hal buruk’. Anda dapat mengatakan, “Mandi yuk, supaya nanti ayah pulang kamu sudah wangi. Nanti ayah nggak mau cium kamu kalau bau…” Menyuruh anak untuk mandi memang tidak mudah, kan Bunda?

“Buruaaaan!”

Kurang tidur, pekerjaan masih banyak, jalanan macet, membuat Anda serba diburu waktu. Jadi, sebetulnya siapa yang harus cepat? Anak dengan iramanya sendiri menjadi salah di mata Anda ketika dia pakai sepatu saja lama. Atau berpikir mau pakai baju yang mana.

Huruhara di pagi hari; menyiapkan diri untuk ke kantor, dan menyiapkan keperluan anak untuk di sekolah. Anda meminta anak untuk mengurus diri sendiri; selesaikan pakai baju dan pakai sepatu sendiri. Usianya 3 tahun, Anda berharap ia dapat menyiapkan diri dengan kecepatan seperti yang Anda harapkan. Anda meledak ketika anak bertanya, “Kaos kakiku mana Bun?”

Anda lupa, bahwa anak dengan segala keterbatasannya, tidak akan mampu menyamai derap langkah Anda. Anak tidak punya kemampuan untuk antisipasi jalan macet, bunda terlambat ke kantor, dan sebagainya. Alih-alih berteriak menyuruh anak terburu-buru bersama Anda, katakan, “Coba ingat-ingat, tadi malam kamu sudah siapkan sendiri, kan? Taruh di mana?”

“Hebat! Anak pinter!”

Apa yang salah dengan kalimat itu? Bukankah itu kalimat positif? Mengubah perilaku buruk akan lebih mudah menggunakan pujian ketika anak berperilaku baik. Betul, tapi pujian yang diberikan dengan begitu gampang untuk tugas-tugas kecil, akan membuat pujian tidak bermakna. Anak yang begitu mudah mendapat pujian akan melakukan hal-hal sepele, tanpa usaha maksimal. Pikirnya, “Ah, segini aja sudah hebat kok.”

– Berikan pujian hanya untuk kerja kerasnya. Misalnya, ia berusaha membantu Anda menyiram tanaman yang sudah Anda tugaskan – tanpa diingatkan lagi.

– Berikan pujian lebih spesifik. “Pinter ya kamu, nggak rewel.”

– Berikan pujian sesuai perilaku yang Anda harapkan, “Pinter kamu, main puzzle sendiri, sementara Bunda menyelesaikan pekerjaan kantor”.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *